Minggu, 15 Mei 2011

Di balik kekurusanaku ^_^

Pertanyaan ini, sering sekali ditanyakan kepadaku sejak dulu, dan jawabanku beberapa waktu terakhir ini hanya dengan senyum, sebab aku sudah capek menjawabnya, juga perasaan usahaku untuk itu sudah maksimal. Dan pertanyaan itu adalah, "Kamu kok nggak gemuk-gemuk Wy? Kapan gemuknya?" Nah :D



Yang pasti sampai sekarang aku masih tetap langsing, bahkan menjadi ikon di almamaterku (poin positif sebenarnya, karena justru dengan fisikku ini aku selalu diingat Guruku, Abuya. Sebab jika memberi contoh kurus, pasti beliau menyebutku, tidak teman kurus yang lain).



Memang seperti ada kebiasaan tidak tertulis, bahwa pelajar di asrama Rushaifah, Masyru' Al-Malikiyyah (tempatku belajar) adalah rata-rata bertubuh gemuk dan segar, apalagi alumnusnya. Hanya bisa dihitung beberapa yang kurus, dan salah satunya adalah aku.



Berbagai usaha penggemukan sudah pernah aku lakukan (tentu yang alami), namun hasilnya tetap tidak ada perubahan. Malah yang antik adalah, timbangan berat badanku sejak aku masuk 8 tahun silam sampai sekarang, adalah tetap ! Laa yazid wa laa yanqush (tidak bertambah tidak pula berkurang).



Dulu aku pikir kurusku adalah sebab sakit, tapi setelah operasi, ternyata tetap saja. Cacingan juga tidak. Ke kamar kecil untuk BAB juga frekwensinya tidak seperti teman-teman yang berbadan jumbo. Lah terus ke mana larinya itu makanan? Kentut doang? :D



Aku pribadi sih sebenarnya tidak terlalu memusingkan soal gemuk atau tidak, namun hanya penasaran saja, sebab secara makanan, menunya, alhamdulillah selalu enak. Sangat mendukung sekali untuk proses penggemukan.



Namun, sebuah momen di madrasah kemarin, membuatku sadar, kalau selama ini, dalam hal bahwa "makan biar gemuk", adalah ternyata cara berpikir yang salah. Cara berpikir yang sama sekali tidak mencerminkan adanya ketawakkalan. Lah kok? Jauh banget hubungannya?



Ustadzku yang menerangkan hal ini, saat membahas tentang hamburger dan fastfood yang lain dan hubungan makan dengan gemuk. Jadi kalau ada yang bilang bahwa makan itu biar gemuk, maka orang seperti ini tidak mengerti dengan baik makna kehidupan. Walah :D



iya, sebab makan adalah untuk bertahan hidup, dan makan adalah salah satu sarana untuk memperkuat punggung agar bisa tegak saat ibadah (maa yasuddu bihir romaq). Soal gemuk atau tidak, itu mutlak kembali kepada Allah, bukan wilayah kita.



Lebih salah lagi bagi yang kurus dan makan apa saja sambil berpikir, bahwa makanan yang dia konsumsi, tidak akan membahayakan (semisal makanan berkadar gula tinggi dan berkolesterol), karena dia kurus, dan yang bahaya makan kea gituan cuma orang gemuk yang memang mudah kena obesitas, tensi tekanan darah, dan diabetes. Kasusnya hampir sama dengan soal gemuk penggemukan tadi.



Namun keluar dari semua itu, sebenarnya bagiku pribadi banyak hal positif yang bisa aku rasakan dengan fisikku yang kurus dan tidak proporsional. Setidaknya aku merasa sangat santri sekali yang memang identik dengan tubuh kurus sebab ditengarai sering tirakat (bedanya saja, aku sama sekali tidak tirakat :D)



Ya tetapi tentu saja tetap menyebalkan dan membuat hati dongkol saat ada teman yang gemuk menyinggung kurusku tetapi dengan nada menghina. Nah saat seperti ini, biasanya aku bungkam teman yang seperti ini dengan fakta dan data, bahwa dalam kitab suci manapun dan ajaran para Nabi tak ada satupun yang memuji kegemukan, bahkan dalam Taurat disebutkan bahwa Allah Melaknat Ulama' yang gendut, nah.



Biasanya sih kubeginikan dia, ayo coba datangkan satu saja dalil ekselensi gemuk. Kamu paling bisanya memberi contoh beberapa ulama' yang gemuk, itu hanya minoritas, lagian mereka juga gemuk ilmu. Nah kalau aku bisa menghadirkan buat kamu puluhan dalil yang memuji kurus dan mengecam gemuk :D



Kadang dikatain, Kyai kalau tidak gemuk tidak punya wibawa. Aku hanya menjawab sederhana, memangnya kita belajar ini niatnya jadi Kyai? Lagipula wibawa adalah bukan dari gemuknya, tapi dari ilmu dan kesalehannya itu. Berapa banyak Ulama' bertubuh ceking tapi gertakannya menggoncang dunia?



Alhasil, soal gemuk-kurus ternyata menjadi pembahasan sendiri dalam ilmu tazkiyatun nafs, ilmu penjernihan hati. Dan bab yang dibahas dalam hal ini sangat lebar sekali. Pada akhirnya adalah intinya bukan pada itu, tetapi pada seberapa ketawakkalan kita dan kejernihan hati kita menanggapi fenomena gemuk kurus, juga seberapa sanggup kita untuk tidak mengurus fisik teman.



Karena Allah Ta'ala tidak melihat pada fisik dan bentuk tubuh, tetapi hanya melihat pada taqwa dan hati seorang hamba itu.



~~@~~



by : Awy' Ameer Qolawun-Dua


Seman untuk bersyukur, apapun bentukku, apapun keadaanku,, aku bersyukur ya Alloh, Engkau memberikan kesempurnaan kepadaku, kesempurnaan untuk berpikir, untuk semakin dekat denganMu.. Ya Alloh, aku hanya ingin Engkau...

I

Tidak ada komentar: