Minggu, 10 April 2011

Betty La Fea

Suasana di kelas XI begitu gaduh, rupanya saat itu guru Bahasa Indonesia tidak ada di kelas. Di dalam kelas sedang terjadi acara penembakan cinta salah satu siswa yang bernama Refi dan Adi. Refi adalah seorang gadis yang tidak cantik, dan tidak pintar. Sedangkan Adi adalah laki-laki yang tampan dan berprestasi. Ungkapan cinta itu membuat semua isi kelas bersorak sorai, mereka menyuruh Refi menerima cinta Adi. Refi sangat syok mendengarnya. Cukup lama Refi tidak menjawab, akhirnya mengatakan kalau dia menolak cinta Adi. Jawaban Refi itu membuat teman-teman dan Adi heran. Kemudian Adipun bertanya, ”Kenapa kamu menolakku?”



”Aku tidak mau dipermainkan” jawab Refi
”Siapa yang mempermainkanmu” kata Adi balik bertanya
”Aku jelek seperti Betty Lafea. Kamu tidak mungkin mencintaiku. Kamu hanya menjadikanku bahan taruhan kan” kata Refi menjelaskan panjang lebar.
”Itu tidak benar. Aku mencintaimu” kata Adi berusaha menyakinkan Refi
”Aku tidak percaya” jawab Refi keras
” Kenapa?” tanya Adi
” Karena kamu mengatakannya di depan umum” jawab Refi.



Tiba-tiba bu Guru Bahasa Indonesia datang, dan semua anak menghentikan kegaduhannya. Guru bahasa indonesia menyuruh anak-anak maju ke depan kelas membacakan puisinya. Adi maju ke depan kelas, dia membuat sebuah puisi yang berjudul mawar di rumahku. Adi menghampiri tempat duduk Refi dia memegang tangan Refi sambil membaca puisi. Tentu saja hal ini membuat teman-teman bersorak.

Acara penembakan adi menjadi buah bibir seluruh penghuni sekolah, mereka meledek setiap bertemu dengan Refi atau Adi. Sejak kejadian itu teman-teman perempuan Refi membencinya, mereka tidak percaya kalau Adi sang primadona sekolah mencintai Refi dan ditolak pula. Teman-teman laki-laki juga jijik melihatnya dan selalu mengacuhkannya. Bahkan sampai tersebar gosip yang tidak sedap kenapa Refi menolak Adi. Ternyata Adilah yang menyebarkan gosip bahwa dia sudah pernah melakukan hubungan suami istri dengan Refi. Gosip ini, membuat Refi marah kepada Adi. Adi mengatakan bahwa alasan dia menyebarkan gosip itu karena dia kecewa Refi telah menolak cintanya. Mendengarnya, Refi semakin marah dan mengatakan bahwa dia juga kecewa pada Adi karena Adi telah mengatakan hal yang tidak benar.

Hari ulang Tahun Refi yang ke-17 akan segera dilaksanakan. Refi mengundang semua teman termasuk Adi. Pada saat acara puncak, teman-teman membujuk Refi untuk memberikan potongan kue kepada Adi. Refipun menyuapi Adi. Entah kenapa perasaannya menjadi sangat bahagia ketika menyuapi Adi. Belum selesai acara suap-suapan, tiba-tiba seorang gadis menarik tangan Adi, dengan memandang tajam Refi. Gadis itu menjabat tangan Refi dan mengatakan ”kenalkan saya pacarnya Adi”. Mendengar perkataan gadis itu, mata Refi berkaca-kaca.

Seminggu setelah ultah Refi, Adi mengalami kecelakaan. Dia menabrak seorang gadis kecil sampai meninggal dunia, dan Adi harus dirawat di rumah sakit karena patah tulang. Refi pun menjenguk Adi. Melihat Refi mengunjunginya Adi senang sekali, Adi memperkenalkan Refi sebagai pacarnya kepada ibunya, kali ini Refi tidak marah, dia justru tersenyum manis pada ibunya Adi. Begitu juga dengan ibunya Adi. Ibu menyuruh Refi untuk menjenguk Adi, jika tidak menjenguk maka Ibu menelpon bahkan menjemput Refi. Hubungan Refi dan Adi menjadi semakin dekat. Suatu ketika, Adi meminta Refi menyuapinya. Awalnya Refi menolak, tapi akhirnya dia mau menyuapi Adi. Adi memegang tangan Refi ketika Refi sedang mengambil nasi di wajah Adi. Adi menatap tajam mata Refi. Dada Refi menjadi berdetak kencang. Pada kesempatan itu, Adi meminta maaf atas kejadian dahulu. Refi pun memaafkan Adi. Dengan masih memegang tangan Refi, Adi mengatakan
” Kalau sekarang aku memintamu menjadi pacarmu, apakah kau menerimanya?”.
Dengan tersenyum manis, Refi menjawab lirih ”iya”.
” kenapa kamu mencintaiku. Aku tidak cantik dan juga tidak pintar”
”Karena aku mencintai hatimu” jawab Adi tersenyum lebar.
Akhirnya mereka perpacaran,


Baca Selengkapnya......

Selasa, 05 April 2011

Nafisah, Sang Ibu yang 10 Anaknya menjadi Dokter

NAFISAH Ahmad Shahab barangkali bisa disebut sebagai supermom. Di antara 12 anak hasil pernikahannya dengan almarhum Habib Alwi Idrus Shahab, sepuluh orang anaknya telah menjadi dokter. Di antara sepuluh dokter itu, tujuh orang bertitel spesialis.

Spesialisasi tujuh anak Nafisah itu pun tidak ecek-ecek. Si sulung, Dr dr Idrus Alwi SpPD KKV FECS FACC, meraih spesialisasi di bidang kardiovaskular. Anak pertama itu juga menjadi satu-satunya yang meraih gelar doktor di antara sepuluh dokter bersaudara itu. Kemudian, drg Farida Alwi menekuni bidang spesialisasi gigi, dr Shahabiyah MMR menjadi Dirut RSU Islam Harapan Anda di Tegal, dr Muhammad Syafiq SpPD, spesialis penyakit dalam, dr Suraiyah SpA (spesialisasi anak), dr Nouval Shahab SpU, spesialis urologi dan sedang menempuh pendidikan untuk gelar PhD di Jepang, dan dr Isa An Nagib SpOT mengambil bidang spesialisasi ortopedi.
Sementara tiga putra Nafisah yang lain masih bergelar dokter umum. Mereka adalah dr Fatinah yang menjabat wakil direktur RS Ibu dan Anak Permata Hati Balikpapan; dr Zen Firhan, dokter umum di Balai Pengobatan Depok Medical Service dan Sawangan Medical Center; dan dr Nur Dalilah, dokter umum di RS Permata Cibubur.

Dua anak Nafisah yang tidak berprofesi sebagai dokter adalah Durah Kamilia (anak keempat) dan Zainab (anak ketujuh). Durah menekuni bidang desain, sedangkan Zainab menggeluti bidang kimia. Dia sedang menempuh pendidikan S-2 kimia di Universitas Padjadjaran, Bandung.

“Dulu sih sebenarnya mau kuliah dokter juga. Tapi, pas ujian masuk lagi sakit, jadi keterima di pilihan kedua di jurusan kimia,” kata Zainab saat ditemui Jawa Pos bersama Nafisah dan Isa An Nagib (anak kesembilan) di kediaman si sulung di Puri Sri Wedari, Cibubur, Depok, Jawa Barat.

Sebenarnya keluarga Nafisah bukan keluarga dokter. Pendidikan Nafisah dan Alwi Idrus juga tidak tinggi-tinggi amat. Nafisah hanya lulusan SMA, sedangkan Alwi bertitel sarjana muda jurusan ekonomi. Mereka bekerja sebagai pedagang. Tapi, pasangan itu mampu mendidik anak-anaknya menjadi orang-orang hebat.

Berkat prestasi langka itu, Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) mengganjar keluarga asal Palembang, Sumatera Selatan, tersebut dengan gelar Profesi Dokter Terbanyak dalam Satu Keluarga.

Kendati sudah sepuh, Nafisah masih tampak sehat. Indra pendengarannya masih tajam. Ingatannya juga tetap kuat ketika menceritakan suka-duka membesarkan 12 anak hingga menjadi sarjana seperti sekarang.

Bagaimana mendidik sepuluh anak menjadi dokter” Menurut Nafisah, semua itu berkat didikan keras almarhum suaminya, Alwi Idrus Shahab. Awalnya keluarga tersebut adalah keluarga saudagar. Mereka memiliki toko di kawasan kota Palembang yang menyediakan kain dan batik. Grosir bisa, eceran oke.

Dagangan kain dan batik itu cukup sukses. Namun, Alwi tidak pernah mendidik anak-anaknya mengikuti jejak orang tua menjadi saudagar. Dia menginginkan semua anaknya menempuh pendidikan yang lebih tinggi daripada dirinya. Keinginan itu muncul, kata Isa An Nagib, karena pengalaman pribadi sang ayah.

Alwi yang lulusan sarjana muda jurusan ekonomi itu merupakan anak lelaki yang paling tua. Dia mengemban beban berat untuk membantu adik-adiknya. Keinginan menempuh pendidikan yang lebih tinggi tak kesampaian karena dirinya harus bekerja keras. “Beliau tak ingin itu terjadi kepada anak-anaknya,” katanya.


Karena itu, Alwi mendidik semua anaknya untuk belajar keras. Semua fasilitas yang berhubungan dengan pendidikan dia penuhi. Mulai buku hingga peralatan sekolah. “Abah itu dulu, anak-anak pagi minta, sore sudah ada,” kata Isa mengenang almarhum sang ayah yang meninggal pada 1996 itu.

Ide untuk ramai-ramai kuliah di kedokteran datang dari si sulung, Idrus Alwi. Dia adalah orang pertama dalam keluarga yang kuliah di kedokteran. Saat itu dia kuliah di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Tiap mudik Lebaran, Idrus bercerita panjang lebar tentang asyiknya kuliah di kedokteran kepada saudara-saudaranya. Mereka pun tergiur. Sejak saat itu target utama adik-adik Idrus setelah lulus sekolah hanya satu: kuliah kedokteran. “Kampusnya boleh di mana saja. Pokoknya negeri. Soalnya, kuliah dokter kan mahal,” ujar Isa.

Gayung bersambut. Keinginan itu diamini oleh Alwi. Apalagi, profesi dokter merupakan jasa yang selalu dibutuhkan masyarakat. Lulusan fakultas kedokteran tak bakal nganggur.

Menurut Nafisah, membesarkan 12 anak susah-susah gampang. Disiplin harus ketat. Suaminya, Habib Alwi, kata Nafisah, memberlakukan aturan bahwa seluruh anak harus pulang setiap Magrib. Apa pun alasannya, tidak ada yang boleh keluar rumah bablas hingga Isya. “Kecuali ada undangan yang benar-benar nggak bisa ditunda,” kata Nafisah.

Aturan itu cukup efektif. Seluruh anaknya menurut. Kalaupun ada acara dengan teman-temannya, pasti mereka pulang dulu menjelang Magrib.

Dengan cara itu, kata Nafisah, me-manage 12 anak jadi gampang. Setelah Magrib, mereka juga tidak boleh langsung bablas hingga malam. Mereka harus mengaji dan baca-baca buku pelajaran di rumah walau sebentar. “Lagi pula, kalau ada kondangan atau acara, kan pasti setelah Isya. Nggak mungkin habis Magrib langsung pergi,” ujarnya.

Selain itu, keluarga besar tersebut juga sering meluangkan waktu untuk jalan bareng. Setiap Sabtu dan Minggu, toko keluarga Alwi hanya buka separo hari. Sisa waktu lainnya digunakan untuk berjalan-jalan ke taman atau kolam renang di sekitar Kota Palembang. “Pokoknya ngikutin kemauan anak,” kata Nafisah.

Kini, 12 bersaudara itu tidak lagi ber-home base di Palembang seperti dulu. “Markas” keluarga Shahab itu kini di perumahan Puri Sri Wedari, Cibubur, Depok, Jawa Barat. Di rumah si sulung. Kebanyakan di antara mereka pun bertempat tinggal di kawasan pinggiran Jakarta itu. Paling tidak, ada enam anak Nafisah yang tinggal di sekitar Depok. Beberapa di antara mereka kompak ikut praktik di Rumah Sakit Permata Cibubur.

Soal rumah sakit itu, si sulung juga yang jadi perintisnya. Pada 2003, bersama sejumlah kolega dokternya, Idrus mendirikan RS tersebut. Saat itu, kata Isa, daerah Cibubur masih sepi. Rumah sakit itu bahkan menjadi rumah sakit pertama di daerah tersebut. Alhasil, beberapa saudara Idrus yang lulus sekolah dokter pun diajak praktik di sana sekaligus tinggal di sana. “Lagi-lagi, kakak pertama yang mengawali,” ungkapnya.

Nafisah menuturkan, memiliki sepuluh anak dokter tidak selalu mendapat pujian orang. Malah ada yang mencibir. Apalagi kalau anak perempuan yang jadi dokter. “Buat apa sekolah lama-lama. Nanti tua, jodohnya sulit,” kata Nafisah menirukan komentar orang-orang.

Tapi, Nafisah percaya bahwa jodoh akan ikut dengan aktivitas anak. Perjalanan studi dokter yang panjang membuat mereka bertemu banyak orang. Karena itu, mitos itu tidak membuat dia ragu mendorong anak-anaknya menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Kata Nafisah, upaya menyekolahkan anaknya itu sempat mendapat cobaan ketika sang kepala keluarga meninggal dunia pada 1996. Saat itu, empat anaknya masih sekolah. Dua orang di kelas 3 SMA, satu orang di kelas 2 SMA. Sejumlah anak belum lulus kuliah.

Nafisah sempat sedikit terguncang dengan meninggalnya Alwi. Dia melupakan guncangan jiwanya itu dengan bekerja di toko. “Saat sibuk di toko nggak ingat, tapi pulang di rumah ingat lagi. Sedih rasanya,” kata nenek 30 cucu itu.

Selama dua tahun, perasaan itu terus dia alami. Namun, perempuan kelahiran 1 Agustus 1946 itu tak menyerah. Dengan toko dan warisan suami, pendidikan 12 anaknya terus diperjuangkan.

Beberapa anak yang sudah mentas dan bekerja ikut membantu ongkos sekolah dan kuliah. Beban itu, kata Nafisah, tidak terlalu berat. Sebab, toko mereka juga masih laris. “Tapi, tanah dan aset abah dijual semua untuk membiayai anak-anak sekolah,” ungkap Isa.

Sepuluh tahun setelah sang suami meninggal, Nafisah berhasil mengatar lulus anak-anaknya. Mereka juga sudah mandiri dan berkeluarga. Sejak saat itu, anak-anak melarang Nafisah sibuk di toko. Mereka lantas memboyong Nafisah ke Cibubur agar dekat dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Kini Nafsiah tidak lagi sibuk berjualan kain dan batik.

Baca Selengkapnya......

Anakku

Entah dari mana asal muasal kisah ini, yang terpenting mari kita ambil hikmah yang terkandung didalamnya. Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.

Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.

Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.

Dan kemudian berkata kepada ibunya: "Bu, saya mau berhenti sekolah dan membantu Ibu bekerja disawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu, Ibu sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau Ibu sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, Ibunya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh Ibunya.

Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.

Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya. Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: "Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna.





Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya" .

Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai IBu kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !".

Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi."

Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.

Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi.

Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.

Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.

Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."

Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar.

Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun Ibunya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan Ibu yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat Ibunya dan berkata: "TerimakasihIBU"

Pesan Admin :
Pepatah mengatakan: "Kasih ibu sepanjang jalan yang tak pernah berujung, sepanjang jaman yang tak tertelan dan sepanjang kenangan dalam kehidupan"

Cinta dari perempuan yang kita panggil Ibu yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak pernah mengharapkan kembali dari sang anak. Mulia hati dari seorang Ibu, berkerja tak pernah kenal lelah dengan harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depan.

Mulai sekarang, janganlah malu, katakanlah cinta "Terimakasih Ibu, Aku Mencintaimu, karena Ibu aku mencintai, karena Ibu aku dicintai"

Baca Selengkapnya......

Cinta Suci Suami

Dilihat dari usia beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Masa Pak Suyatno, 58 tahun ke sehariannya diisi dengan merawat isterinya yang sakit. isterinya juga sudah tua. Mereka berkahwin sudah lebih 32 tahun.
Mereka dikurniakan 4 orang anak, di sinilah awal cobaan menerpa, setelah isterinya melahirkan anak ke empat ……… tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak boleh digerakkan. Hal itu terjadi selama dua tahun.

Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang dan lidahnya pun sudah tidak mampu digerakkan lagi.
Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapkan, dan mengangkat isterinya ke atas tempat tidur.
Sebelum berangkat ke tempat kerja dia meletakkan isterinya di hadapan TV supaya isterinya tidak berasa kesunyian.


Walau isterinya tidak dapat berbicara dengan orang, tapi dia selalu melihat isterinya tersenyum dan Pak Suyatno masih berasa beruntung karena tempat kerjanya tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga siang hari dia boleh pulang ke rumah untuk menyuapi isterinya makan. Petangnya dia pulang memandikan isterinya, mengganti pakaian, dan selepas maghrib dia temankan isterinya menonton tv sambil bercerita apa saja yang dia alami seharian.

Walaupun isterinya hanya mampu memandang (tidak mampu memberikan respons ), Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda dan bergurau dengan isterinya setiap kali menjelang tidur.
Rutin ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat isterinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah menikah mereka tinggal dengan keluarga masing-masing.
Dan Pak Suyatno tetap merawat ibu kepada anak-anaknya, dan yang dia inginkan hanya satu: semua anaknya sukses.
Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata : “Pak kami ingin sekali merawat ibu … Semenjak kami kecil kami melihat bapak merawat ibu dan tidak ada sedikit pun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak izinkan kami menjaga ibu.”
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya ………

“Sudah yang kali keempat kalinya kami mengizinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengizinkannya. Bila bapak akan menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini ….. kami sudah tidak sampai hati melihat bapak begini… kami berjanji akan merawat ibu dengan sebaik-baiknya secara bergantian,” ujar anaknya yang sulung merayu.
Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga oleh anak-anaknya.

“Anak-anakku. …. jikalau hidup di dunia ini hanya untuk nafsu…. mungkin bapak akan berkahwin lagi…. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku… . itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian…”
Sejenak kerongkongannya tersekat…”Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini ? Tidak..
Kalian menginginkan bapak bahagia …. Apakah batin bapak dapat bahagia meninggalkan ibumu dalam keadaannya seperti sekarang ?
Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan berupa kesehatan yang baik dirawat oleh orang lain …….bagaimana dengan ibumu yg masih sakit ?

Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno…Merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata ibunya… Dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu…
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu statiun TV swasta untuk menjadi panel jemputan acara Bimbingan Renungan Selepas subuh dan juru acara pun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno…

Kenapa bapak mampu bertahan selama 25 tahun merawat Isteri yang sudah tidak mampu berbuat apa-apa?
Ketika itu pak Suyatno pun menangis….tamu yang hadir di studio yang kebanyakan kaum ibu pun tidak mampu menahan haru…
Disitulah Pak Suyatno bercerita…Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai karena Tuhan maka semuanya akan luntur…

Saya memilih isteri saya menjadi pendamping hidup saya …….Sewaktu dia sehat dan dia pun dengan sabar merawat saya… Mencintai saya dengan sepenuh hati lahir dan batinnya bukan dengan mata kepala semata-mata. .. dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu dan baik-baik…

Sekarang dia sakit berkorban untuk saya karena Tuhan… Dan itu merupakan ujian bagi saya.
Sehat pun belum tentu saya mencari penggantinya... apalagi dia sakit … Setiap malam saya bersujud, menadah tangan dan menangis dan saya mengadu kepada Tuhan agar dapat meringankan penderitaan isteri saya.

Dan saya yakin hanya kepada Tuhan tempat saya mengadukan sebuah rahasia hati dan segala kesukaran saya… karena DIA adalah Sang Maha Mendengar

Pesan Admin
~ Mencintaimu adalah harta berarti bagi diri, mencintaimu adalah kehidupan yang akan datang dalam rindu, angan dan kenangan. Beginilah cinta, tak pernah mengenal akan siapa, ia lahir dengan sendiri tanpa pernah diminta pada maut yang tak bisa dihindarkan ~

Baca Selengkapnya......

Sebuah Mukjizat dari kata "Maaf" (Renungan)

Entah dari mana asal muasalnya, yang pasti ini wajib kita sampaikan untuk saling cerita, yang didalamnya banyak mengandung hikmah yang terkadang kita lupakan bahkan diabaikan.

Ada seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak ,, Georgia , Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik kepadanya, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik buat istri dan anaknya perempuan. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, bila keadaan mabuk, ia lalu berbuat kasar dan sering kali ia memukuli anak dan isterinya. Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya hinga terkuras habis selama bertahun istrinya menabung. Ia lalu naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang dia anggap yang baik. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru.

Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Gambling, drug. Dia menikmati semuanya itu. Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kehabisan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi lalu menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.

Hari demi hari ia alami di penjara membuat ia berpikir dan menyesali. Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai sadar dan merindukan keluarganya yang ada di rumahnya. Dia sangat merindukan keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia, yang telah dilakukan selama ini. Jika masih diberi kesempatan ia akan menyayangi istri dan anaknya, bahwa ia juga masih mencintai isteri dan anaknya. Dan ia berharap dia masih boleh kembali.

Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, “Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti dengan apa yang telah aku perbuat selama ini dan aku tidak akan turun dari bis. Aku akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak kita seumur hidupku.” Ia menulis surat itu dengan tidak henti-henti air matanya mengalir.

Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. di sampingnya ada yang memperhatikan tingkah dia. "kamu kenapa? keliahatannya kamu begitu tegang." kata seorang pria yang duduk di sampingnya. Spontan ia menoleh,dan air matanya pun mulai berkaca-kaca. Ia lalu menceritakan kisahnya sejak ia menikah dan saat ia juga memperlakukan istri dan anaknya.

Seisi bis mendengar ceritanya dan kebanyakan terharu dengan rasa penyelannya. Beberapa penumpang bus meminta kepada sopir bus untuk berjalan perlahan-lahan. “Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan. Kita mesti lihat apa yang akan terjadi…” Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak, dan para penumpang pun tidak berkedip untuk menyaksikan hal itu. Hingga akhirnya ia tidak berani mengangkat kepalanya, ia menutupi mukanya dengan kedua tanganya karena ia begitu terasa tegang. Keringat dingin mengucur deras,bajunya pun sampai basah.

"Lihat....disana ada kain besar yang menutupi setiap pohon." seru seorang penumpang. Seketika pria itu langsung melihat yang di tunjukan oleh seorang penumpang. Air matanya tiba-tiba menetes di matanya… ternyata ia tidak melihat sehelai pita kuning… tidak ada sehelai….. . Melainkan ada kain-kain kuning yang menutupi semua pohon …. Ooh… seluruh pohon telah dibalut oleh kain kuning. Ketika turun di halte, ternyata seluruh keluarga besar istrinya telah menunggu di pohon beringin itu dengan anaknya juga. Melihat ia di sambut dengan istri dan anaknya serta keluarga besar istrinya, hatinya makin tak kuasa tuk menahan haru. Ia lalu berjalan menghampiri mereka. Anaknya pun berlari sambil memanggil ayah dan ia pun memeluk ayahnya. Istrinya menyusul dan tuk menjemput suaminya. Ia bisa lega hatinya karena istrinya bukan hanya mengampuni tetapi juga mau memberikan kasihnya untuk dia


Pesan Admin :
Inilah yang dinamakan cinta, perempuan selalu bisa memaafkan lelaki, karena dalam hati perempuan tidak akan ada rasa benci sedikitpun terhadap lelaki yang ia cintai.
Duhai Kaum lelaki, hidup ini akan sangat terang gemintang ketika istri menunggu pulang saat kerja, ketika tertawa kecil dari sang anak, semua lelah ini akan berguguran ketika mereka slalu ada. Jangan abaikan mereka. Suksesmu adalah dari mereka bukan dari diri sendiri.

@Irf_Journey

Baca Selengkapnya......

Ibu

Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua”,jawab ibu itu.” Wow… hebat sekali putra ibu” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.




Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya bu?? Bagaimana dengan kakak adik-adik nya??”” Oh ya tentu ” si Ibu bercerita : ”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat kerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.””

Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu??” Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”

Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu….. kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses dipekerjaannya, sedang dia menjadi petani ?? “

Dengan tersenyum ibu itu menjawab,

”Ooo …tidak, tidak begitu nak….Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”

Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu, pikiranmu, hatimu. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca buku itu sampai selesai. Orang bijak berbicara “Hal yang paling penting adalah bukanlah siapakah kamu tetapi apa yang sudah kamu lakukan"

Baca Selengkapnya......

Perjuangan seorang ibu

Ini adalah kisah nyata. kehidupan seorang single parent yang berjuang menemani anaknya dalam melawan kanker ganas. satu pesan saya buat para sahabar TERIMA KASIH IBU : "Jangan pernah menyakiti seorang perempuan yang dipanggil IBU"

Menggambarkan sosok seorang single mother dalam berjuang bersama anaknya yang masih kecil untuk melawan kanker ganas.

Balapan bertelanjang kaki, Cyndie mendorong putranya Derek Madsen (10) naik dan turun lorong di UC Davis Medical Center di Sacramento pada 21 Juni 2005. Cyndie berusaha mengalihkan perhatian Derek selama menunggu ekstraksi sumsum tulang. Dokter ingin menentukan apakah ia memenuhi syarat untuk transplantasi Blood Cell Stem, dengan harapan terbaik untuk mengalahkan neuroblastoma, kanker masa kanak-kanak yang langka, yang didiagnosis padaNovember 2004.

Cyndie, memeluk Derek pada tanggal 25 Juli 2005, setelah mengetahui Derek membutuhkan operasi untuk mengangkat tumor kanker di perutnya. Cyndie tampak emosional, “Bagaimana ia bisa mempertahankan pekerjaannya dan melakukan ini?” dia mulai bertanya-tanya.

Tak lama setelah ulang tahun Derek ke 11 dan Cyndie ke 40, Derek ditemani oleh saudaranya Mikha Moffe, 17, kiri, dan ibu Cyndie, kanan, Derek mendapatkan tato dalam persiapan untuk terapi radiasi pada 30 November 2005. Mikha sering menemani Derek dalam perawatan meskipun sibuk sekolah.

Menyadari bahwa Derek mungkin tidak akan pernah mempunyai kesempatan untuk mendapatkan SIM-nya, Cyndie membiarkan dia menyetir naik turun jalan di West Sacramento. Pada hari yang sama, 9 Februari 2006, Cyndie bertemu untuk pertama kalinya dengan pekerja dari rumah sakit yang kemudian selalu menjaga Derek dirumah, dan Cyndie menyadari tinggal sedikit waktu yang tersisa untuk Derek.



Derek menangis setelah berargumen dengan Cyndie di UC Davis Cancer Center on Feb 14, 2006. Dia dan Dr William Hall berpendapat bahwa Derek harus memiliki serangkaian perawatan radiasi untuk mengecilkan tumor menyebar ke seluruh tubuh dan meringankan rasa sakit. “Derek, kamu mungkin tidak akan bertahan jika kamu tidak melakukan ini,” Cyndie berkata pada anaknya. Derek berteriak: “Aku tidak peduli! Bawa aku pulang. Aku sudah selesai, Bu. Apakah Ibu mendengarkan saya? Aku sudah selesai.”

yndie menghibur sahabatnya, Kelly Whysong [kiri] pada 24 April 2006, khawatir "waktu" Derek sudah dekat, Cyndie menulis surat kepada Derek tentang betapa beraninya dia selama perjuangan melawan kanker. Dia membacakan kepada putra bungsunya berulang kali, berharap ia masih dapat mengerti.
Setelah meletakkan bunga di samping kepala anaknya, Cyndie menangis terisak-isak jatuh ke lantai pada tanggal 25 April, sahabatnya, Kelly Whysong, kiri, dan teman yang lain, Nick Rocha, menenangkannya. Derek terlalu lemah untuk mengenali kehadiran ibunya.
Derek memiliki energi terakhir setelah berhari-hari Cyndie menjaganya di samping tempat tidurnya. Dia membantu anaknya yang kesakitan berjalan pada 26 April. Sebuah kanker tumor diperut Derek membesar begitu cepat sehingga celananya tidak muat lagi. Tumor lain di otaknya mengganggu penglihatannya membuat sulitnya bernavigasi dirumah kontrakan mereka.
Derek menolak untuk minum obat karena ia takut merusak organnya lebih parah. Ia mengamuk pada ibunya pada 28 April, menyalahkan dia karena tidak membuatnya lebih sehat. “Kamu harus menenangkan diri dan bantu saya untuk membantu kamu,” kata Cyndie.

Derek mencium ibunya di Relay for Life Benefit, bersama saudara perempuannya yang berumur 6 tahun, Brianna. Cyndie merekrut banyak relawan untuk acara itu. Sebelum perlombaan, Cyndie berbicara kepada penonton betapa ia bangga dengan keberanian putranya selama melawan kanker.
Cyndie memegang Derek pada 8 Mei. Dia sedang dalam pengobatan yang menghambat kemampuan bicaranya dan selalu terbangun di malam hari. Cyndie menghabiskan hampir setiap saat hari di sisinya kecuali beberapa menit sementara perawat rumah sakit mengurusnya, “Aku sangat lelah tapi aku harus melakukan ini. Dia akan memanggil nama saya dan selalu mengharapkan saya untuk berada disebelahnya,” kata Cyndie.

Dalam upaya untuk mengajak Derek keluar, Cyndie mendorongnya melalui pintu depan melewati gambar-gambar dan kartu diberikan kepada anaknya oleh teman-teman sekelasnya di SD Pulau Bridgeway. “Sama seperti bayi yang baru lahir, ia perlu untuk keluar dan menghirup udara segar,” katanya. Itu adalah perjalanan terakhir di luar rumah.

Cyndie melawan tangis emosinya pada tanggal 10 Mei, saat dia bersiap menguras kateter Derek dengan larutan garam sebelum perawat Sue Kirkpatrick [kiri] memberikan obat penenang yang akan memberikan Derek kematian yang damai. “Aku tahu dalam hatiku, aku sudah melakukan semua yang saya bisa,” kata Cyndie.

Cyndie menimang Derek dengan lagu, “Because We Believe,” yang di putar di CD. Ia bernyanyi berbisik bersamaan dengan Andrea Bocelli. “Sekali dalam setiap kehidupan, Ada saatnya, Kita berjalan keluar sendirian, Dan ke dalam cahaya …” Dari kiri, teman-teman keluarga Ashley Berger, Amy Whysong Morgan dan Kelly menenangkan Cyndie yang sedang berkata kepada Derek, “Tidak apa-apa, Sayang. Aku mencintaimu, anakku yang kecil. Aku mencintaimu, anakku yang pemberani. Aku cinta kamu. Aku mencintaimu.” Derek meninggal segera setelah di pelukan ibunya pada 10 Mei 2006.

Cyndie memimpin peti mati Derek untuk penguburan dengan bantuan dari putra-putranya Anthony Moffe [depan] Mikha Moffe [sebrangnya] dan Vincent Morris [yg tidak terlihat] dan juga beberapa teman. “Aku akan selamanya mengenangmu dalam hatiku dan mengingatkan orang lain untuk memberikan waktu mereka, energi dan dukungan kepada keluarga lain seperti kita,” kata Cyndie di pemakaman. Derek dimakamkan di Mount Vernon Memorial Park di Fair Oaks, California, pada 19 Mei 2006.

Sebuah kisah yang sangat menginspirasi, berbagai pelajaran didapat dari kisah ini, pelajaran mengenai perjuangan, pelajaran mengenai kasih ibu, juga pelajaran mengenai tidak pernah menyerah.

source: http://jeuratraya.blogspot.com/2010/01/perjuangan-seorang-ibu.html

Baca Selengkapnya......